Angin Segar Petani Padi di Pacitan

TerasJatim.com, Pacitan – Sayup-sayup deru mesin perontok padi membelah kesibukan siang, di lahan persawahan Desa Gayuhan, Kecamatan Arjosari, Pacitan, jatim, yang sedang panen raya.
Makin dekat, suara itu terdengar begitu bising. Lalu lalang para petani, pekerja sawah di Dusun Banaran tampak tak berjeda. Pun perbincangan di antara mereka, harus dengan nada keras, agar tiap kata mudah dicerna kepala.
Jarum jam menunjuk angka 11. Langit siang pada Rabu (19/02/2025) lalu di wilayah itu tampak murung. Anak-anak awan saling bersilang, seakan tak memberi celah pada mentari untuk mengintip.
Suasana itu, membuat mereka gegas membereskan tanaman padi yang sebagian masih berdiri, dan beberapa bagian lainnya tertidur karena disapu angin.
Di jalan raya yang tak jauh dari lahan sawah, beberapa kendaraan roda 2 dan 4 berhenti dan parkir di tepi jalan. Sebagian lagi menepikan kendaraannya di halaman rumah-rumah penduduk. Lantas, mereka menuju lahan sawah yang sedang panen.
Diketahui, rombongan tersebut dari Kantor Badan Urusan Logistik (Bulog) Cabang Ponorogo, bersama TNI dari Kodim 0801 Pacitan, Polisi, PPL dari Dinas Ketahanan Pangan Dan Pertanian Pacitan, pihak kecamatan dan pemerintah desa, serta gabungan kelompok tani (Gapoktan) setempat.
Mereka memakai caping, menenteng sabit, lalu turun ke sawah, dan bahu membahu membersamai petani. Alhasil, padi siap panen itu beres seketika. Setelahnya, di bawa ke tempat mesin perontok padi untuk dicerai dari batangnya.
Di pelataran siang yang redup, seutas senyum terbit di bibir para petani. Wajahnya berseri-seri, lantaran gabah hasil panen mereka diserap oleh Kantor Badan Urusan Logistik (Bulog) Cabang Ponorogo, melalui Gudang Pacitan.
Penyerapan tersebut merujuk Keputusan Kepala Badan Pangan Nasional Republik Indonesia Nomor: 14 Tahun 2025, perihal Gabah Kering Panen (GKP) dari petani, dibeli sesuai Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang telah ditetapkan, yaitu Rp 6.500 per kilogram.
“Alhamdulillah, ini (harga) paling baik,” kata Bibit (70), salah satu petani padi asal Dusun Jenggrik, Desa Gayuhan, di sela-sela memanen, baru-baru ini.
Angin Segar Petani Padi di Awal Musim Panen 2025
Di antara hamparan padi yang menguning di awal musim panen ini, Desa Gayuhan menjadi titik pertama yang mengalami panen padi lebih dulu, dibanding daerah lain yang ada di Pacitan.
Panen raya kali ini, seolah jadi berkah tersendiri bagi Bibit, dan para petani lainnya di Pacitan. Ketetapan HPP itu bak membawa angin segar bagi mereka, lantaran gabah hasil panen laku tinggi.
“Sebelum ada serapan dari Bulog, per kilogramnya kadang-kadang Rp4 ribu, Rp5 ribu, bahkan pernah cuma Rp3 ribu. Itu sangat rendah,” beber Bibit, sembari menyeka keringat di dahi dan mengipasi wajah senjanya dengan topinya.
Kehadiran pemerintah di tengah dilema petani padi; tiap panen harga gabah rendah, seperti sudah membuka tabir senyum yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Petani pun merasa terbantu, juga makin giat untuk terus berurusan dengan lahan persawahan.
“Serapan Bulog ini sangat membantu petani, dan mengangkat derajat petani,” ungkap Suryo Sasongko (53), petani padi lainnya di Desa Gayuhan.
Penyerapan gabah hasil panen dengan harga laik itu, benar-benar menjadi sebuah harapan bagi petani padi. Mereka merasa, masih ada sisa yang bisa diputar untuk meningkatkan hasil panen di musim selanjutnya, baik dengan cara membeli benih padi unggul maupun lainnya.
“Inilah yang diharapkan petani. Semoga dengan serapan Bulog ini, ke depan hasil panen bisa lebih meningkat, dan petani makin sejahtera,” imbuh Suryo.
Serapan Bulog, Ukir Sejarah Baru
Petani padi di desa wilayah ini mendukung penuh serapan gabah hasil panen dari Bulog. Mereka menyambut positif atas andil pemerintah yang memihak petani. Di satu sisi, ketetapan HPP itu telah mengukir sejarah baru di dunia pertanian padi, mengingat tiap panen tiba harga gabah seolah mempermaikan petani.
“Alhamdulillah, serapan Bulog ini sangat didukung petani, karena baru kali ini. Sejarah. Gabah petani mendapat harga tinggi Rp6.500. Hari ini (19/2) yang diserap 4 ton,” kata Imam Mawardi, Kepala Desa Gayuhan, di kantornya.
Penyerapan GKP bakal dilakukan di semua lokasi yang di Pacitan. Bagi petani maupun gapoktan yang gabahnya ingin diserap, bisa berkomunikasi dengan PPL, Babinsa, atau datang langsung ke Bulog. Tentunya, gabah yang dibeli oleh Bulog diharapkan memenuhi ketentuan yang telah ditetapkan, baik itu HPP maupun kualitas gabah.
“Mudah-mudahan (penyerapan) ini jadi penyemangat bagi petani, karena gabah dapat terjual dengan harga yang menguntungkan,” ujar Sugeng Santoso, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Pacitan, terpisah.
Sebagai asupan informasi, Kantor Bulog Cabang Ponorogo dapat kuota penyerapan gabah panen petani sebesar 60.000 ton di awal musim panen 2025. Penyerapan itu menyasar di tiga wilayah yang dinaungi, di antaranya Kabupaten Magetan, Kabupaten Ponorogo, dan Kabupaten Pacitan.
“Di wilayah Kantor Cabang Bulog Ponorogo yang meliputi Kabupaten Ponorogo, Magetan, dan Pacitan, kami memiliki target sekitar 60.000 ton sampai dengan Bulan April,” kata Budiwan Susanto, Pimpinan Cabang Bulog Ponorogo, kepada Kompas. (Git/Kta/Red/TJ)